Opinion

Menulis artikel ilmiah yang jelas: dari pertanyaan riset ke naskah siap review

Kerangka kerja menulis artikel ilmiah untuk pendidik dan peneliti pemula: struktur IMRaD, kejelasan argumen, dan revisi berbasis pembaca—bukan sekadar menambah halaman.

Opinion 24 Jul 2026 9 min

Artikel ilmiah yang baik bukan yang paling panjang, melainkan yang paling mudah diikuti reviewer tanpa menebak-nebak maksud penulis. Banyak naskah ditolak bukan karena topiknya “tidak penting”, tetapi karena pertanyaan riset kabur, metode tidak terhubung ke temuan, atau diskusi mengulang hasil tanpa menafsirkan maknanya.

Revisi naskah ilmiah dengan pensil merah di atas draf cetak
Revisi struktur dan bukti biasanya lebih penting daripada mempercantik kalimat di awal.

Mulai dari pertanyaan, bukan dari judul yang “menarik”

Judul boleh dipoles belakangan. Yang harus jelas sejak awal adalah: apa yang ingin diketahui, mengapa penting bagi praktik/kebijakan pendidikan, dan apa yang sudah/belum dijawab literatur. Tulis pertanyaan riset dalam satu kalimat yang dapat diuji atau dieksplorasi. Jika Anda tidak bisa menjelaskan pertanyaan itu kepada kolega dalam 30 detik, pembaca jurnal juga akan kesulitan.

Struktur yang membantu pembaca berpikir bersama Anda

Untuk banyak jurnal pendidikan dan sosial, kerangka IMRaD (Introduction, Methods, Results, and Discussion) masih menjadi tulang punggung—meski ada variasi essay/konseptual.

  • Pendahuluan: celah pengetahuan + tujuan + kontribusi singkat.
  • Metode: desain, partisipan/konteks, instrumen, prosedur, dan etika—cukup detail untuk dinilai kredibel.
  • Hasil: temuan utama tanpa interpretasi berlebihan.
  • Pembahasan: arti temuan, tautan ke literatur, keterbatasan, implikasi praktik.

Abstrak sebaiknya ditulis ulang setelah naskah stabil. Abstrak yang ditulis terlalu dini sering menjanjikan temuan yang tidak muncul di isi.

Kejelasan prosa ilmiah

Gunakan kalimat aktif bila memungkinkan, hindari nominalisasi berlebih (“melakukan pengidentifikasian” → “mengidentifikasi”), dan batasi jargon yang tidak didefinisikan. Satu paragraf idealnya membawa satu ide. Transisi antar bagian harus menjawab: “mengapa bagian ini ada setelah bagian sebelumnya?”

Tabel dan gambar bukan dekorasi. Setiap visual perlu disebut di teks, punya judul yang informatif, dan dapat dipahami tanpa membaca ulang seluruh hasil.

Siklus revisi yang realistis

  1. Revisi struktur (apakah argumen mengalir?).
  2. Revisi bukti (apakah klaim ditopang data/literatur?).
  3. Revisi bahasa dan sitasi.
  4. Baca nyaring atau minta peer read khusus untuk “apa yang membingungkan?”.

Untuk penulis pemula, peer review internal sebelum submit ke jurnal menghemat waktu jauh lebih besar daripada mengirim naskah “mentah” lalu menunggu desk reject.

Penutup

Menulis artikel ilmiah adalah keterampilan yang bisa dilatih: pertanyaan tajam, struktur yang melayani pembaca, dan revisi yang jujur. Mulailah dari satu naskah yang selesai dengan baik—bukan sepuluh draft yang tidak pernah dikirim.

Penulis: Bambang Irawan

Daftar referensi

  1. Belcher, W. L. (2019). Writing your journal article in twelve weeks (2nd ed.). University of Chicago Press.
  2. Day, R. A., & Gastel, B. (2016). How to write and publish a scientific paper (8th ed.). Cambridge University Press.
  3. Sword, H. (2012). Stylish academic writing. Harvard University Press.
  4. Thomson, P., & Kamler, B. (2013). Writing for peer reviewed journals: Strategies for getting published. Routledge.
  5. University of Manchester. (n.d.). Academic Phrasebank. https://www.phrasebank.manchester.ac.uk/
Diskusi Bersama Kami